Rabu, 15 Juli 2009

Web 2.0 & Lahirnya New Wave Marketing



Facebook, Blog, Web 2.0, Wikipedia, Social Networking, Mobile Marketing, Experiential Marketing, Offline & Online Community, Many-to-Many Marketing.

Itulah sejumlah istilah yang marak belakangan ini di dunia bisnis dan marketing. Lanskap marketing memang sedang berubah dengan cepatnya, sehingga memerlukan pendekatan-pendekatan baru untuk menyikapinya. Konsep-konsep marketing yang ada dalam buku teks saat ini menjadi kurang relevan lagi di tengah gelombang perubahan yang terutama dipicu oleh perkembangan teknologi internet dengan Web 2.0-nya serta perkembangan mobile technology.

Ngomong-ngomong, mungkin ada di antara Anda yang belum memahami semua istilah yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Kalau begitu, tenang saja. Dalam tulisan-tulisan berikutnya, semua terminologi tersebut akan saya jelaskan pada Anda satu per satu. Namun dalam kesempatan kali ini, kita akan fokus dulu membahas apa itu Web 2.0.

Untuk itu, saya akan membawa Anda kembali ke tahun 2004 silam…atau mungkin lebih ke belakang lagi, tahun 2001, suatu era yang disebut dot com boom. Banyak orang menginginkan punya website sendiri, meskipun tanpa alasan yang pasti. Begitu pula para pelaku bisnis dan indusri bergengsi belum merasa maju jika belum memiliki website sendiri. Di masa ini, jika Anda memiliki barang atau jasa untuk dijual online, manfaat memiliki situs web mungkin akan terasa. Namun sebagian besar pemilik website justru hanya memiliki situs yang statis, yang hanya bersifat satu arah dan eksklusif. Situs-situs di era ini masih bersifat informatif semata dan tidak interaktif. Selain itu, pengembangan situs seakan-akan menjadi milik para jago programming komputer semata sehingga sebagian besar orang kaya berperan sebagai pengguna pasif. Inilah yang disebut era Web 1.0. Demikianlah uang mengalir sia-sia dari kantong perusahaan tanpa tujuan yang jelas.

Hingga kini, lahirlah era Web 2.0. Di mana cara penyajian materi website telah berubah. Para pengguna atau pengunjung situs sekarang dapat melakukan aktivitas lain di website daripada sekadar membaca informasi. Mereka bisa berinteraksi satu sama lain dan berpartisipasi untuk meningkatkan nilai sebuah situs. Jaringan penggunanya pun telah mencapai lingkup global, di mana para pengunjung dari berbagai bangsa, etnis, ras dan latar belakang telah turut ambil bagian dalam membentuk dinamika content dalam sebuah situs. Orang juga bahkan bisa lebih mudah mengekspresikan dirinya, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi, berpartisipasi dalam sebuah kegiatan dan banyak lagi. Semua ini dimungkinkan terjadi, karena website saat ini telah dilengkapi dengan berbagai aplikasi baru yang dikembangkan secara kontinu untuk tujuan ini.

Nah sejauh ini Anda jelas? Emm..jika Anda masih bingung, mungkin akan lebih gampang dipahami jika saya mencontohkan karakteristik website ini dengan situs-situs yang memungkinkan pengguna untuk berpartisipasi, seperti blog yang tengah Anda kunjungi ini, Wikipedia, Tagged, Flickr, MySpace, Digg, eBay atau mungkin ini..Facebook! Yang terakhir ini saya 99,99% yakin Anda tahu. Kenapa saya yakin 99,99%? Karena walaupun terhitung “anak bawang” dalam dunia internet, situs ini sekarang termasuk salah satu situs paling populer di internet. Per tanggal 26 Agustus 2008 lalu, tercatat sudah ada 100 juta anggota situs ini. Bahkan dalam update terakhir yang saya dapat, angka ini sudah meningkat menjadi 110 juta!! Jika dibandingkan dengan populasi negara di dunia, “penduduk” Facebook akan berada di peringkat ke-12, persis di bawah Meksiko dan di atas Filipina.

Lantas, mengapa situs ini bisa jadi sangat populer? Ini terjadi karena Facebook sangat user-friendly. Orang yang sebelumnya awam internet pun akan bisa dengan mudah bergabung menjadi anggota. Setelah itu, ia juga akan bisa dengan mudah mencari kawan atau bergabung dengan suatu komunitas di Facebook tersebut. Semua orang diperlakukan sama rata, yang penting ia memiliki minat yang sama dalam komunitas tersebut. Belakangan ini bahkan Facebook bukan hanya menjadi situs pertemanan belaka, namun sudah diarahkan pula untuk kepentingan bisnis.

Mungkin beberapa dari Anda sudah pernah di-invite untuk bergabung dalam komunitas MLM tertentu semacam Sophie Martin? Atau bahkan Anda bisa menjumpai begawan pemasaran Indonesia seperti Hermawan Kartajaya dan Kafi Kurnia juga memiliki account Facebook. Banyak jalinan pertemanan awal di situs ini ujung-ujungnya berujung ke relasi bisnis.

Contoh lain yang lebih jelas adalah eBay, sebuah situs maya yang mempertemukan penjual dan pembeli dari seluruh dunia. Penjual merasa bisa menjangkau dunia tanpa batas, sehingga bisa mendapatkan harga yang paling tinggi. Sedang pembeli merasa punya keleluasaan untuk memilih berbagai penawaran dari manapun untuk mendapatkan yang terbaik juga. Pihak penyelenggara, eBay, hanya memfasilitasi transaksi yang fair. Inilah bentuk nyata dari kehebatan Web 2.0.

Demikianlah lahirnya Web 2.0 membuat semua orang tanpa kecuali, selama punya akses internet, memiliki kesempatan yang sama untuk bisa sukses. Dunia bisnis bukan lagi monopoli perusahaan-perusahaan besar bermodal kuat. Ditambah lagi, perkembangan aplikasi di dunia mobile technology (informasi dan komunikasi) juga menjadikan kita bisa ter-update kapan dan di mana pun kita berada.

Berbagai perubahan ini bermuara pada lahirnya sebuah pendekatan marketing yang baru. Pendekatan yang bersifat vertikal, top-down dan one-to-many akan digantikan oleh pendekatan yang bersifat horizontal, bottom-up dan peer-to-peer serta many-to-many. Ciri pendekatan inilah yang melahirkan konsep New Wave Marketing. Inilah paradigma pemasaran baru yang memadukan teknologi dan sisi humanisme secara solid yang mengindikasikan bahwa pasar dewasa ini telah menjadi datar, di mana para marketer dan customer telah berbaur, tanpa ada perbedaan status.

Demikian pula dengan pendekatan ini, pemasar dituntut untuk mampu mengurangi biaya pemasaran yang terlampau tinggi. Pemasar harus bisa semakin melibatkan pelanggan dan memanfaatkan kecanggihan teknologi agar semua program pemasaran bisa berjalan efektif dan efisien. Itulah hal-hal yang menjadi dasar pemikiran dari New Wave Marketing. Nah, siapakah pencetus terminologi New Wave Marketing ini dan sejauh mana pengaruhnya di dunia saat ini akan saya jelaskan dalam posting saya berikutnya.

Akhirnya, supaya blog baru ini juga menjadi salah satu warga Web 2.0 mohon kesediaan pembaca untuk memberikan komentar, kritik ataupun saran atas tulisan ini. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar